Minggu, 22 Mei 2016

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEJANG DEMAM THYPOID



ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEJANG DEMAM THYPOID
Saya memilih kejang Demam typhoid karena saya ingin tahu asuhan keperawatan dengan pasien kejang demam thypoid dan bisa memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mengetahui penyakit kejang demam thypoid.
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994). Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, 1993).
 Yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typhosa, basil gram negatif, berflagel (bergerak dengan bulu getar), anaerob, dan tidak menghasilkan spora. Bakteri tersebut memasuki tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan manusia merupakan sumber utama infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat sedang sakit atau dalam pemulihan. Kuman ini dapat hidup dengan baik sekali pada tubuh manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit, namun mati pada suhu 70°C maupun oleh antiseptik. Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B atau C (Soedarto, 1996). Gejala tersebut meliputi
§  Demam lebih dari 7 hari          : Pada pasien dengan kejang demam tipoid biasanya Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga, suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
  §      Gangguan saluran pencernaan            : Mulut pasien terdapat bau yang tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah (ragaden), lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue, lidah tifoid), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor(rasa gemeteran). Pada abdomen(perut) terjadi splenomegali dan hepatomegali dengan disertai nyeri tekan. Biasanya didapatkan kondisi konstipasi, kadang diare, mual, muntah, tapi kembung jarang.
§  Gangguan kesadaran                           : Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak seberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.
§  Pada punggung terdapat roseola (bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya ditemukan pada minggu pertama demam).
§  Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis(perut), akan tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu kedua setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar(sulit) diterangkan. Menurut teori relaps(kambuh) terjadi karena terdapatnya basil(kuman) dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat zat anti. Mungkin terjadi pada waktu penyembuhan tukak(luka dalam lambung), terjadi invasi basil(kuman) bersamaan dengan pembentukan jaringan fibrosis.
§  Epitaksis          : Perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik). Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala suatu kelainan.
§  Bradikardi       : Tekanan darah rendah.
Dalam keperawatan kita sebagai perawat dapat menganjurkan pasien untuk mengetahui perkembangan / keadaan pasien lebih lanjut, dan pengobatannya, pasien harus beristirahat 5-7 hari bebas panas (istirahat total tidak boleh beraktivitas sampai mengeluarkan keringat yang berlebihan), Mobilisasi sewajarnya, sesuai kondisi (melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan pasien). Untuk mencegah penyakit kejang demam thypoid maka pasien harus menyediakan minum yang memenuhi syarat (air putih), pengobatan karier (pengobatan terus menerus), mengikuti pendidikan masyarakat.
Diet terapi penunjang dilakukan dengan:
§  Diet rendah serat
§  Bubur saring,bubur kasar, nasi diberikan sesuai tingkat kesembuhan pasien.
§  Vitamin,mineral untuk mendukung keadaan umum pasien.

Penatalaksanaan farmakologik :
§  Kloramfenikol (suatu golongan antibiotik yang menghambat pertumbuhan bakteri)efek samping reaksi hipersensitivitas, demam, kemerahan pada tubuh, mimpi buruk, bengkak pada wajah dan mata, anemia, penurunan jumlah sel darah putih maupun trombosit yang disebabkan karena supresi pada sumsum tulang, mual, muntah, diare, kesemutan, gangguan penglihatan. Penggunaan dosis tinggi pada bayi baru lahir dapat menyebabkan grey baby syndrome (kelainan pada bentuk bayi) dimana keadaannya memburuk dengan cepat.
§  Amoksilin Amoksilin adalah obat jenis antibiotik dari golongan penisilin, yang pada umumnya digunakan untuk mengobati berbagai penyakit akibat infeksi bakteri. Amoksisilin dapat mencegah pembentukan dinding luar bakteri, sementara pada saat yang sama juga akan menghalangi bakteri berkembang. Seperti kebanyakan dari obat antibiotik lainnya, amoksisilin hanya efektif untuk penggunaan obat karena infeksi bakteri, dan tidak menunjukkan efek dalam kasus penyakit oleh virus atau infeksi lainnya.
§  Sefalosporin generasi III
§  Meropenem
§  Flourokuinolon
Pasien yang menderita kejang demam thypoid datang dengan keluhan panas sudah 2 hari, muntah 3x, pasien diantar oleh keluarganya dengan keluhan panas, pusing, mual muntah 3x, semula di rumah sudah diperiksa ke mantri setempat / desa, tetapi karena panas lagi maka pasien akan dibawa ke rumah sakit. Pasien belum pernah menderita sakit seperti ini dan tidak pernah dirawat di rumah sakit, hanya saja pasien menderita pilek atau batuk dan biasanya diperiksakan ke mantri desa (setempat). Pasien tidak mempunyai riwayat alergi dan pasien mendapat imunisasi lengkap yaitu BCG, DPT, Polio, Campak, DT dan Hepatitis, anggota keluarga pasien tidak menderita sakit seperti ini dan tidak ada penyakit herediter (penyakit keturunan) yang lain.  
Kita sebagai perawat mengkaji (merawat) pasien dengan berbagai macam tindakan seperti 11 pola gordon pattern, head to toe, dan sistem appoach (B1-B6). Saya memilih pengkajian dengan 11 pola gordon pattern tetapi saya mengkaji pasien dengan prioritas saja (yang berhubungan denga pasien kejang demam thypoid) .


1.      POLA KEBIASAAN PASIEN SEHARI-HARI
§  Pola Nutrisi
Sebelum sakit: Makan 3 x sehari, dengan nasi, lauk dan sayur, makanan yang tidak          disukai yaitu kubis dan yang paling disukai yaitu mie ayam. Pasien makan dengan piring dan sendok biasa, tanpa memperhatikan warna dan bahannya. Minum 7 - 8 gelas sehari.
Selama sakit : Makan 3x sehari, dengan diet bubur halus, hanya habis ¼ porsi, karena lidahnya terasa pahit. Pasien makan dari tempat yang disediakan oleh rumah sakit. Minum 7 - 8 gelas sehari.
§  Pola Eleminasi
Sebelum sakit: BAB(Buang Air Besar) 1 x sehari dengan konsistensi lunak, warna kuning. BAK(Buang Air Kecil) 3-4 x sehari , warna kuning jernih.
Selama sakit:  selama 2 hari pasien belum BAB(Buang Air Besar). BAK(Buang Air Kecil) 3-4 x sehari, warna kuning jernih
§  Pola Istirahat - Tidur
Sebelum sakit: pasien tidur dengan teratur setiap hari pada pukul 20.00 WIB(Waktu Indonesia Barat) sampai jam 05.00 WIB(Waktu Indonesia Barat). Kadang-kadang terbangun untuk BAK(Buang Air Kecil). Pasien juga terbiasa tidur siang dengan waktu sekitar 2 jam. Ibu pasien selalu membacakan cerita sebagai pengantar tidurnya.
Selama sakit : pasien susah tidur karena suasana yang ramai.
§  Pola Aktivitas
Sebelum sakit: pasien bermain dengan teman - temannya sepulang sekolah dengan pola permainan berkelompok dan jenis permainan menurut kelompok.
Selama sakit: pasien hanya terbaring di tempat tidur.
§  Integritas ego
Gejala  : Perasaan tidak berdaya, karena pasien badannya lemas, malas makan.
Tanda  : Ansietas

2.      PENGKAJIAN PSIKO - SOSIO - SPIRITUAL
§   Pandangan pasien dengan kondisi sakitnya.
Pasien menyadari kalau dia berada dirumah sakit dan dia mengetahui bahwa dia sakit dan perlu perawatan tetapi dia masih ketakutan dengan lingkungan barunya.
§   Hubungan pasien  dengan tetangga, keluarga, dan pasien lain.
Hubungan pasien dengan tetangga dan keluarga sangat baik, banyak tetangga dan sanak saudara yang menjenguknya di rumah sakit. Sedangkan hubungan dengan pasien lain tidak begitu akrab. Pasien ketakutan.
§   Apakah pasien terganggu dalam beribadah akibat kondisi sakitnya.
Pasien beragama Islam, dalam menjalankan ibadahnya pasien dibantu oleh keluarganya. Ibu pasien selalu mengajakya berdoa untuk kesembuhannya.
google/demam thypoid/ASKEP THYPOID _ HIMPUNAN PERAWAT MUDA INDONESIA.htm
Pada pengkajian diatas saya mengangkat dua diagnosa yaitu diagnosa yang pertama hypertermi berhubungan dengan laju metabolisme meningkat. Kemudian kita sebagai perawat memberikan intervensi (perawatan) kepada pasien dengan melakukan yang pertama mengopservasi tanda-tanda vital (melihat perkembangan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, pernafasan dan lain-lain). Sehingga perawat mengetahui perkembangan penyakit pasien.
Yang kedua memberikan kompres dengan air biasa di daerah temporal (dahi) bila terjadi panas, dengan menggunakan kompres air supaya bisa menurunkan panas pada tubuh pasien. Yang ketiga memberikan tetesan infus, untuk pemberian cairan yang adekuat, mempertahankan tubuh supaya tubuhnya pasien tidak lemas, letih. Kemudian menganjurkan pasien untuk mengenakan baju yang tipis atau menyerap keringat agar tidak terjadi dehidrasi krn peningkatn suhu tubuh. Dan perawat berkolaborasi (bersama-sama) memberikan cairan infuse untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit, berkolaborasi dengan memberikan obat sesuai yang dibutuhkan seperti obat sumagesic (obat penurun panas) dan obat antibiotic seperti ceftriaxone (untuk mencegah infeksi lebih lanjut oleh bakteri salmonella thypi)
            Diagnosa yang kedua yaitu Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, intake yang tidak adekuat, peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma dari pembuluh darah. Saya mengangkat masalah ini dengan tujuan supaya volume cairan dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien seperti mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Perawat memberikan tindakan keperawatannya dengan mengkaji tanda-tanda dehidrasi untuk mengetahui turgor kulit kering (kelembaban kulit), mukosa bibir kering, pasien merasa haus, mata cekung sehingga perawat mengetahui dan mencegah terjadinya syok.
            Diagnosa yang ketiga resiko nutrisi  kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat yang bertujuan untuk kebutuhan nutrisi pasien yang dapat terpenuhi seperti dengan pasien makan banyak atau nafsu makan yang bertambah, BB (Berat Badan) meningkat atau ideal, intergritas kulit baik (permukaan kulit lembab dan tidak kering), bising (suara) usus normal 6-12x, nilai laboratorium normal (nilai pemeriksaan), pasien dapat menghabiskan porsi makanannya seperti sebelum sakit. Dengan perawat melakukan tindakan sebagai berikut yang pertama kaji intake dan output nutrisi (kebutuhan nutrisi pasien) untuk mengetahui keefektifan asupan nutrisi, yang kedua menimbang berat badan pasien untuk mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi yang adekuat pada pasien, yang ketiga menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering dengan tujuan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi tubuh pasien, yang keempat parawat harus mengkaji makanan yang disukai dan tidak disukai pasien supaya membantu kebutuhan spesific untuk meningkatkan intake pasien, yang kelima perawat mampu mengkolaborasi dengan ahli gizi menentukan diet pasien, kemudian berikan obat-obatan antiemetic sesuai indikasi (kebutuhan obat untuk pasien) untuk menghilangkan keluhan mual muntah pada pasien.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar