BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara normal ada empat
buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar
tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub
inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup
bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.
Setiap kelenjar
paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya
dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman.
Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief
cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma
dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH).
Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan
sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya Pada manusia, sebelum pubertas
hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia,
tetapi pada sebagian besar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak
ditemukan.Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan
modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.
B. Rumusan Masalah
Secara garis besar,
masalah yang kami rumuskan adalah
sebagai berikut :
1. Apakah kelenjar paratiroid itu?
2. Bagaimana mekanisme kerja kelenjar paratiroid?
3. Apa dan bagaimana fungsi hormon yang dihasilkan
kelenjar paratiroid?
4. Apa efek hormon paratiroid?
5. Apa yang terjadi jika kelenjar paratiroid tidak
berfungsi normal?
C. Tujuan
Makalah ini dimasukkan
sebagai pedoman, agar mahasiswa mengetahui tentang kelenjar paratiroid, fungsi
hormon yang dihasilkan dan penyakit yang ditimbulkan jika kelenjar tersebut tak
berfungsi normal.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Kelenjar Paratiroid adalah sebuah kelenjar endokrin
dileher yang memproduksi hormon paratiroid. Manusia biasanya mempunyai empat
kelenjar paratiroid, yang biasanya terdapat dibagian belakang dari pada
kelenjar tiroid atau kelenjar yang dekat dengan kelenjar tiroid, sehingga
disebut dengan kelenjar “Paratiroid”, atau dikasus yang langka, didalam
kelenjar tiroid itu sendiri atau didalam dada. Hormon paratiroid mengontrol
jumlah kalsium didarah dan didalam tulang. Hormon paratiroid bisa menurun
sangat rendah pada pasien post operasi pada pengangkatan kelenjar tiroid karena
ikut terangkatnya kelenjar paratiroid yang akibatnya adalah penurunan kadar
kalsium dalam darah hipokalsemia. Hormon
paratiroid mengakibatkan : peningkatan reabsorpsi kalsium dari
tulang, peningkatan reabsorpsi diginjal,
peningkatan absorpsi kalsium disaluran cerna oleh vitamin D. Namun peningkatan
hormon paratiroid juga mengakibatkan penurunan kadar fosfat dalam darah, karena
hormon ini meningkatkan sekresi dalam darah.
B. Anatomi
dan Fisiologi
1. Anatomi
Kelenjar
paratiroid tumbuh dari jaringan endoderm, yaitu sulcus pharyngeus ketiga dan
keempat. Kelenjar paratiroid yang berasal dari sulcus pharyngeus keempat cenderung bersatu dengan kutub
atas kelenjar tiroid yang membentuk kelenjar paratiroid dibagian kranial.
Kelenjar yang berasal dari sulcus pharyngeus ketiga merupakan kelenjar
paratiroid bagian kaudal, yang kadang menyatu dengan kutub bawah tiroid. Akan
tetapi, sering kali posisinya sangat bervariasi. Kelenjar paratiroid bagian
kaudal ini bisa dijumpai pada posterolateral kutub bawah kelenjar tiroid, atau
didalam timus, bahkan berada dimediastinum. Kelenjar paratiroid kadang kala
dijumpai di dalam parenkim kelenjar tiroid. (R. Sjamsuhidajat, Wim de
Jong,2004, 695). Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia,
yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior
kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya. Namun, letak masing-masing
paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid
kadang-kadang ditemukan di mediastinum. Setiap kelenjar paratiroid panjangnya
kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan
memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman.
Kelenjar
paratiroid orang dewasa terutama
mengandung sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok
plus retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan
mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih
besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam
sitoplasmanya. Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan
setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagian besar
binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan. Fungsi sel oksifil
masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama
yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.
2. Fisiologi
Kelenjar
paratiroid mengeluarkan hormon paratiroid (parathiroid hormone, PTH) yang
bersama-sama dengan Vit D3, dan kalsitonin mengatur kadar kalsium dalam darah.
Sintesis PTH dikendalikan oleh kadar kalsium plasma, yaitu dihambat sintesisnya
bila kadar kalsium tinggi dan dirangsang bila kadar kalsium rendah. PTH akan
merangsang reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal, meningkatkan absorbsi
kalsium pada usus halus, sebaliknya menghambat reabsorbsi fosfat dan melepaskan
kalsium dari tulang. Jadi PTH akan aktif bekerja pada tiga titik sasaran utama
dalam mengendalikan homeostasis kalsium yaitu di ginjal, tulang dan usus. (R.
Sjamsuhidayat, Wim de Jong, 2004, 695).
Secara normal ada empat
buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar
tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub
inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup
bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum. Setiap
kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan
tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat
kehitaman. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur
kadar kalsium dan fosfor didalam darah dan tulang.
Fungsi kelenjar paratiroid
1. Memelihara
kosentrasi ion kalsium yang tetap pada plasma.
2. Mengontrol ekskresi kalsium dan
fosfat melalui ginjal, mempunyai efek terhadap reabsorbsi hormontubuler dari
kalsium dan sekresi fosfor
3. Mempercepat
absorbsi kalsium di intestinal.
4. Jika pemasukan kalsium berkurang,
hormon paratiroid menstimulasi reabsorsi tulang sehingga menambah kalsium dalam
darah.
5. Dapat
menstimulasi dan mentransportasi kalsium dan fosfat melalui membran sel.
Kelenjar paratiroid sulit untuk ditemukan
selama operasi tiroid karena kelenjar paratiroid sering tampak sebagai lobulus yang
lain dari kelenjar tiroid. Dengan alasan ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini
diketahui, pada tiroidektomi total atau subtotals sering berakhir dengan
pengangkatan paratiroid juga.
Pengangkatan setengah bagian kelenjar
paratiroid biasanya menyebabkan sedikit kelainan fisiologik. Akan tetapi,
pengangkatan tiga atau empat kelenjar normal biasanya akan menyebabkan
hipoparatiroidisme sementara. Tetapi bahkan sejumlah kecil dari jaringan
paratiroid yang tinggal biasanya sudah mampu mengalami hipertrofi dengan cukup
memuaskan sehingga dapat melakukan fungsi semua kelenjar. Kelenjar paratiroid
orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang
mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan granula
sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil
yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar
mitokondria dalam sitoplasmanya. Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit
dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada
sebagianbesar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan.
Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi
atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.
C.
Mekanisme Kerja Kelenjar Paratiroid
Di dalam melaksanakan
kerjanya, kelenjar paratiroid diatur dan diawasi secara langsung oleh kelenjar
hipofisis. PTH adalah konsentrasi ion-ion kalsium yang terdapat didalam cairan
ekstraseluler. Produksi PTH akan meningkat apabila kadar kalsium didalam plasma
menurun. Didalam keadaan fisiologis normal, kadar kalsium dalam plasma berada
dalam pengawasan hoemostatik dalam batas yang sangat sempit. Pengawasan ini
dipengaruhi oleh perubahan diet setiap hari dan pertukaran mineral antara
tulang dengan darah.
Kelenjar Paratiroid
mengeluarkan hormon paratiroid. Hormon paratiroid adalah suatu hormon
peptida yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid, yaitu empat kelenjar kecil
yang terletak di permukaan belakang kelenjar tiroid Hormon Paratiroid
bersama-sama dengan vitamin D dan kalsitonin mengatur kadar kalsium dalam
darah. Sintesis paratiroid hormon dikendalikan oleh kadar kalsium plasma, yaitu
dihambat sintesisnya bila kadar kalsium tinggi dan dirangsang bila kadar
kalsium rendah.
Seperti aldosteron,
hormon paratiroid esensial untuk hidup. Efek keseluruhan Hormon paratiroid
adalah meningkatkan konsentrasi kalsium dalam plasma dan mencegah hipokalsemia.
Apabila Hormon paratiroid sama sekali tidak tersedia, dalam beberapa hari
individu yang bersangkutan akan meninggal, biasanya akibat asfiksia yang
ditimbulkan oleh spasme hipokalsemik otot-otot pernapasan. Melalui efeknya pada
tulang, ginjal, dan usus hormon paratiroid meningkatkan kadar kalsium plasma
apabila kadar elektrolit ini mulai turun sehingga hipokalsemia dan berbagai
efeknya secara normal dapat dihindari. Hormon ini juga bekerja menurunkan konsentrasi
fosfat plasma.
Hormon Paratiroid dan Hormon Tiroid-hubungan protein (PTHrP) merupakan
hormon yang mengontrol kesetimbangan kalsium dan fosfor. Dua reseptor telah
diidentifikasi bentuk ikatan hormon paratirid dengan tiroid adalah PTHrP.
Tipe I reseptor hormon paratiroid: ikatan kedua hormon
paratiroid dan gugus amino terminal senyawa peptida PTHrP. Molekul ini adalah G
protein-reseptor coupled dengan 7 segmen transmembran. Bagian ekstraselular
mempunyai 6 residu sistein. Ikatan ligan untuk reseptor ini aktivitasnya
oleh adenylyl cyclase dan sistem phospholipase C, diturunkan oleh sinyal
protein kinase A dan protein kinase c. Jalur siklik AMP lebih dominan.
Kemungkinan peryataan akan aksi hormon paratiroid, penandaan mRNA sebagai
reseptor tipe I dengan penyebaran yang luas dalam tulang dan ginjal. Senyawa
mRNA juga dinyatakan pada kadar yang rendah dalam banyak jaringan,
kemungkinannya pada reseptor untuk PTHrP.
Tipe II reseptor hormon paratiroid: Ikatan hormon
paratiroid, ditunjakan sebagai bentuk yang sangat lambat untuk PTHrp. Molekul
ini diekspresikan hanya dalam jumlah yang kecil dari jaringan-jaringan, dan
bentuknya atau sifat fisiologiknya berbeda nyata walaupun dengan karakteristik
yang kecil. Seperti pada reseptor tipe I, juga dalam bentuk ikatan dengan
adenylyl cyclase dan induksi ikatan ligan yang meningkat konsentrasi
intraseluler untuk siklik AMP.
Adapun Mekanisme Kerja Hormon Paratiroid adalah
PTH meningkatkan plasma dengan
menarik dari bank tulang. Sepanjang hidup PTH menggunakan
tulang sebagai “bank” untuk menarik sesuai kebutuhan agar
kadar plasma dapat dipertahankan. Hormon paratiroid memiliki dua efek
besar pada tulang yang meningkatkan konsentrasi plasma. Pertama,
hormon ini memicu efluks cepat kedalam plasma dari cadangan
labil yang jumlahnya terbatas dicairan tulang. Kedua, dengan
rangsang disolusi tulang, hormon ini mendorong
pemindahan dan secara perlahan dari cadangan
stabil mineral tulang didalam tulang itu sendiri kedalam plasma.
Akibatnya, remodeling didalam tulang bergeser kearah
reabsorpsi tulang dibandingkan pengendapan tulang.
Efek langsung PTH adalah mendorong pemindahan dari cairan tulang
kedalam plasma. Sebagian besar tulang tersusun membentuk
unit-unit osteon, yang masing-masing terdiri dari satu kanalis sentralis yang
dikelilingi oleh lamela yang tersusun konsentrik. Lamela adalah lapisan
osteosit yang terkubur dalam tulang yang diendapkan disekitar eskosit-eskosit
tersebut. Osteon biasanya berjalan sejajar dengan sumbu panjang tulang.
Pembuluh darah menembus tulang dari permukaan luar atau rongga sumsum dan
berjalan melalui kanalis sentralis. Osteoblas terdapat disepanjang permukaan
luar tulang dan disepanjang permukaan dalam yang melapisi kanalis sentralis.
Osteoklas juga terdapat di permukaan tulang yang sedang mengalami resorpsi.
Osteoblas permukaan dan osteosit yang terkubur tersebut dihubungkan oleh
anyaman ekstensif saluran-saluran halus berisi cairan-cairan, kanalikulus, yang
memungkinkan pertukaran bahan osteosit yang terperangkap tersebut dan
sirkulasi. Saluran halus ini mengandung juluran panjang halus dari osteosit dan
osteoblas yang berhubungan satu samalain, seolah olah sel sel tersebut saling
berpegangan tangan. Anyaman sel ini disebut membran tulang.
Pada kondisi hipokalsemia kronik, PTH mempengaruhi pertukaran
lambat antara tulang itu sendiri dan CES dengan mendorong disolusi
lokal tulang. Hormon melakukannya dengan merangsang osteoklas untuk menelan
tulang, meningkatkan pembentukan lebih banyak osteoklas dan secara transien
menghambat aktivitas osteobla. Tulang mengandung sedemikian
banyak dibandingkan dengan plasma sehingga meskipun PTH mendorong
peningkatan resorpsi tulang, tidak akan terlihat efek nyata yag segera pada
tulang karena proporsi tulang yang terkena amatlah kecil. yang
diambil dari tulang, nantinya akan diendapkan kembali dalam tulag ketika
konsentrasi dalam plasma darah cukup. Namun, sekresi berlebihan PTH yag terus
menerus akhirnya menyebabkan terbentuknya rongga diseluruh tulang yang terisi
oleh osteoklas yang banyak. Ketka PTH mendorong larutnya
ktrisal ditulang untuk mengambul kandungan nya,
baik maupun dibebaskan kedalam plasma.
Peningkatan plasma merupakan hal yang tidak diinginkan, tetapi dapat
diatasi dengan pengaruh PTH terhadap ginjal.
PTH bekerja pada ginjal untuk menghemat dan
mengeluarkan . PTH merangsang konservasi dan
mendorong eliminasi oleh ginjal selama pembentuka urin. Dibawah
pengaruh PTH, ginjal dapat meningkatkan reabsorpsi yang terfiltrasi
sehingga yang lolos ke urin lebih sedikit. Efek ini meningkatkan
kadar plasma dan menurunkan pengeluaran diurin. Sebaliknya, PTH
menurunkan reabsorpsi sehingga sekresi diurin meningkat.
Akibatnya, PTH menurunkan kadar bersamaan dengan meningkatnya
kadar . Ini sangat penting untuk mencegah
pengendapan yang dibebaskan dari tulang agar produk kalium
fosfat konstan. Olehkaren itu PTH bekerja pada ginjal untuk menurunkan
reabsorpsi oleh tubulus ginjal. Efek penting PTH pada ginjal lainnya
adalah pengaktifan vitamin D oleh ginjal untuk mencegah terjadinya difisiensi
vitamin D.
Konsekuensi utama defisiensi vitamin D adalah gangguan
penyerapan diusus. PTH mempertahankannya dengan mengorbankan tulang.
Akibatnya matriks tulang mengalami mineralisasi karena tidak tersedia
garam-garam untuk diendapkan. Akibatnya tulang menjadi lunak dan
berubah bentuk yang dikenal sebagai rakhitis.
Secara tidak langsung, PTH mendorong
penyerapan dan oleh usus halus dengan membantu
mengaktifkan vitamin D. Vitamin ini sebaliknya secara langsung meningkatkan
penyerapan dan diusus halus.
Kekurangan atau
Kelebihan sekresi PTH
§
Hipersekresi PTH atau
hiperparatiroidisme yaitu tumor pada kelenjar yang menyebabkan kesimbangan
distribusi kalsium terganggu, yang akibatnya tulang menjadi keropos dan kalsium
diendapkan di ginjal.
§
Hiposekresi PTH atau
hipoparatiroidisme menyebabkan kekuranga kalsium dalam darah (hiokalsemia) yang
menyebabkan tetani dengan gejala kejag-kejang.
D.
Hormon pada kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid
menghasilkan hormon
paratiroid/parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi ion
kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur : absorpsi kalsium dari
usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang.
Fungsi utama hormon paratiroid adalah
meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Hal ini tercapai dengan meningkatkan
secara tidak langsung jumlah kalsium yang diabsorbsi pada usus halus dan
mereabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal. Jika sumber ini memberikan suplai
yang tidak adekuat, maka hormon paratiroid menstimulasi osteoklas (sel
penghancur tulang) dan resorpsi kalsium dari tulang.
Terdapat tiga hormon
yang mengatur konsentrasi kalsium (dan secara bersamaan mengatur fosfat) dalam
plasma. Salah satunya adalah hormon paratiroid. PTH, yang sekresinya secara
langsung ditingkatkan oleh penurunan konsentrasi kalsium plasma, bekerja pada
tulang, ginjal dan usus untuk meningkatkan konsetrasi kalsium plasma. Efek
tersebut esensial untuk kehidupan karena mencegah akibat fatal hipokalsemia.
Dengan kata lain, PTH
akan merangsang reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal, meningkatkan absorbsi
kalsium pada usus halus, sebaliknya menghambat reabsorbsi fosfat dan melepaskan
kalsium dari tulang. Jadi PTH akan aktif bekerja pada tiga titik sasaran utama
dalam mengendalikan homeostasis kalsium yaitu di ginjal, tulang dan usus.
E.
Efek Hormon Paratiroid
§ Meningkatkan mobilisasi Ca dan P dari tulang ke
dalam cairan ekstra sel.
§ Meningkatkan pembentukan tulang.
§ Meningkatkan penghancuran tulang.
|
Meningkatkan kalsium serum
|
§ Merangsang pembentukan vitamin-D.
§ Meningkatkan reabsorbsi tubulus ginjal terhadap Ca
dan Mg.
§ Meningkatkan
pengeluaran P.HCO3 dan Na.
|
§ Meningkatkan absorbsi Ca da P dengan bantuan
vitamin D.
|
F.
Gangguan Fungsi Kelenjar Paratiroid
1.
Hiperparatiroidisme
Hiperparatiroidisme
adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih
banyak hormon paratiroid dari biasanya. Hiperparatiroidisme dapat menimbulkan
berbagai gejala seperti tulang menjadi rapuh, lemah, dan berbentuk
abnormal. Selain itu, kadar ion kalsium yang berlebihan dalam darah dapat
masuk ke air seni dan mengendap bersama ion fosfat. Endapan ini dapat
membentuk batu ginjal sehingga menyumbat saluran air seni.
Jika jumlah hormon
paratiroid yang disekresi lebih banyak dari pada yang dibutuhkan maka ini
disebut hiperparatiroidisme primer.
Jika jumlah yang disekresi lebih banyak karena kebutuhan dari tubuh maka
keadaan ini disebut hiperparatiroidisme
sekunder.
a) Hiperparatiroidisme primer
§
Berkurangnya kalsium
dalam tulang sehingga timbul fraktur spontan, sering nyari pada tulang, tumor tulang.
Bagian yang sering terkena adalah tulang panjang.
§
Kelainan traktus
urinarius : defek (kegagalan) pada tubulus ginjal biasanya reversible (bisa
kembali), batu ginjal, kadang-kadang neprokalsinosis (deposisi kalsium dalam
nepron)
§
Manifestasi dari sistem
saraf sentral (defresi, konfusi dan koma)
§
Kelemahan neuromuskular,
tenaga otot berkurang, hipotonik (penurunan tonus) otot, fatigue (hilang
tenaga), dan kadang-kadang terjadi aritmia kardiak.
§
Manifestasi
gastrointestinal : kurang nafsu makan, nausea, muntah (vomitus) dan konstipasi.
b) Hiperparatiroidisme sekunder
§
Pada penyakit ini
terdapat hiperplasia dan hiperfungsi kelenjar paratiroid yang disebabkan :
gagal ginjal kronik dan kurang efektifnya PTH pada beberapa penyakit
(defisiensi vitamin D dan kelainan gastrointestinal)
2. Hipoparatiroidisme
Hipoparatiroidisme adalah gabungan gejala dari produksi
hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan
umumnya sering disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid
pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih jarang lagi ialah
tidak adanya kelenjar paratiroid (secara kongenital). Kadang-kadang penyebab
spesifik tidak dapat diketahui.
Gejala-gejala utama
adalah reaksi-reaksi neuromuscular yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium
serum yang sangat rendah. Keluhan-keluhan dari penderita (70 %) adalah tetani.
tetani = hipertonia otot yang menyeluruhnya ® tremor dan kontraksi
spasmodik atau tak terkordinasi yang terjadi dengan atau tanpa upaya untuk
melakukan gerakan volunter.
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara normal ada empat
buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid,
dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya.
Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi,
jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.
Di dalam melaksanakan
kerjanya, kelenjar paratiroid diatur dan diawasi secara langsung oleh kelenjar
hipofisis. PTH adalah konsentrasi ion-ion kalsium yang terdapat didalam cairan
ekstraseluler. Produksi PTH akan meningkat apabila kadar kalsium didalam plasma menurun. Didalam keadaan fisiologis
normal, kadar kalsium dalam plasma berada dalam pengawasan hoemostatik dalam
batas yang sangat sempit. Pengawasan ini dipengaruhi oleh perubahan diet setiap
hari dan pertukaran mineral antara tulang dengan darah.
Kelenjar paratiroid
menghasilkan hormon
paratiroid/parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi ion
kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur : absorpsi kalsium dari
usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang.
Bila kelenjar paratirod
tidak berfunsi normal, maka akan menyebabkan terjadinya beberapa penyakit yaitu
:
1. Hiperparatiroidisme
adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih
banyak hormon paratiroid dari biasanya.
2. Hipoparatiroidisme
adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat.
B. Saran
Sebagai seorang perawat,
kita sebaiknya tahu banyak tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan
kelenjar endokrin karena pengetahuan
tersebut dapat menjadi
acuan dan bekal dalam persiapan
praktik di rumah sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar